Malam Pertama Forum Teologi Jumatan dan Pertanyaan yang Tidak Selesai Setelah
Film Berakhir

Kapel PGI Cikini bukan tempat yang biasanya dikunjungi orang untuk mendiskusikan
monster ungu berbadan raksasa yang ingin membunuh setengah populasi alam semesta.
Tapi Jumat malam, 17 April 2026, tepat pukul 18.55 WIB, layar proyektor di dalam kapel itu
menyala, dan tiba tiba Thanos ada di sana, duduk di tepi tebing bersama Gamora, anak
angkatnya, berbicara dengan suara yang lebih pelan dari yang orang bayangkan untuk
seorang penjahat dengan ukuran sebesarnya.
Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang menutup mata. Dua puluh sekian orang di ruangan
itu menonton empat menit percakapan itu dalam diam yang cukup serius untuk disebut
khidmat. Itulah malam pertama Forum Teologi Jumatan PAC Menteng, yang akan berlangsung setiap
Jumat selama tujuh minggu ke depan di tempat yang sama. Temanya besar tapi dibingkai
dengan rendah hati: filsafat moral yang dipantik dari film blockbuster. Setiap pekan, satu
film, satu pertanyaan, satu percakapan yang diharapkan tidak selesai ketika orang pulang.
Malam pertama memilih Thanos. Pilihan yang, setelah beberapa jam berlalu, terasa sangat
tepat dan sedikit nakal.
Siapa yang Datang?
Kalau ada yang membayangkan forum filsafat gereja sebagai ruangan penuh orang berjas
dengan ekspresi masing masing lebih serius dari yang sebelumnya, malam itu akan sedikit
mengejutkan.
Di antara dua puluh sekian kursi yang terisi, ada seorang ibu rumah tangga yang datang
dengan tenang seperti orang yang sudah sering duduk di ruang diskusi tanpa pernah merasa
perlu membuktikannya. Di sebelahnya, seorang lansia yang usianya hampir menyentuh
delapan puluh tahun, dengan postur tegak dan tatapan yang tidak menunjukkan tanda tanda
akan mengantuk. Beberapa kursi ke kiri, seorang lulusan pascasarjana yang masih mencari
kerja, dua orang mahasiswa yang tampak baru selesai dari kampus, dan beberapa warga
jemaat yang, seperti yang salah satu dari mereka ungkapkan dengan jujur, datang karena
Jumat malam di Jakarta lebih baik diisi dengan sesuatu daripada tidak.
Tidak ada seleksi. Tidak ada syarat pendidikan. Tidak ada tiket. Ini bukan kelas filsafat dalam
pengertian akademik. Lebih mirip ruang tamu yang kebetulan punya layar proyektor dan
orang yang tahu cara bertanya dengan tepat.
Satu orang hadir dari jauh dalam arti yang berbeda: Ronggur, yang bergabung secara daring
dari lokasi lain, akan menjadi salah satu yang paling banyak menyumbang pertanyaan malam
itu, terutama soal sesuatu yang secara teknis disebut filisida, dan yang dalam konteks malam
itu berarti: apakah seorang ayah, bahkan dalam situasi yang paling ekstrem, pernah bisa
dibenarkan untuk membunuh anaknya sendiri?
Pertanyaan itu menunggu. Sebelum sampai ke sana, ada pengantar yang harus dilalui.
Irfan dan Seni Membuka Percakapan
Irfan Fauzan, yang usianya baru memasuki awal dua puluhan dan berstatus mahasiswa,
adalah moderator malam itu. Pengantarnya berlangsung cukup panjang untuk disebut
elaboratif, tapi dengan cara yang tidak membuat orang merasa sedang dikuliahi. Ia membangun jembatan antara pertanyaan moral yang abstrak dengan kenyataan sehari hari
yang cukup kongkret untuk dirasakan oleh siapa pun di ruangan itu.
Ada bakat tertentu dalam kemampuan seseorang untuk berbicara tentang Kant dan Thanos
dalam satu nafas tanpa membuat salah satunya terasa dipaksakan. Bakat itu, malam itu,
sedang dalam proses ditemukan.
Mas Ito dan Ilmu yang Keluar dari Gedung
Ito Prajna Nugroho adalah alumnus STF Driyarkara, sarjana maupun pascasarjananya, dan
salah satu penggagas Philosophy Underground, kelas filsafat rutin yang sejak 2016
diselenggarakan di Komunitas Utan Kayu bersama Tim Burung Hantu dari kampus yang
sama. Gratis, terbuka, lintas tema. Cara berfilsafat yang menolak tembok gedung kuliah
sebagai syarat masuk.
Malam di kapel PGI Cikini adalah lanjutan dari watak yang sama: filsafat yang mencoba
duduk di sebelah orang yang tidak punya alasan akademik untuk ada di sana, tapi datang.
Empat Menit Bersama Thanos
Sebelum Ito bicara, layar proyektor menyala. Adegan yang dipilih berdurasi sekitar empat
menit. Thanos dan Gamora, anak angkat yang ia cintai dengan cara yang aneh dan
menyakitkan seperti cinta yang tidak tahu batas dirinya, berdiri di tepi jurang di planet
Vormir. Mereka baru tahu bahwa untuk mendapatkan Soul Stone, salah satu dari keduanya
harus mati. Dan yang harus mati adalah yang paling dicintai.
Thanos menangis. Gamora tertawa, karena ia pikir Thanos tidak punya siapa pun yang ia
cintai dan karena itu tidak bisa membayar harga itu. Lalu ia sadar bahwa ia salah. Lalu
semuanya terjadi dengan cepat.
Film superhero tidak selalu menjadi tempat yang baik untuk bertanya tentang moralitas. Tapi
adegan itu adalah pengecualian yang jarang. Ia menolak untuk menjadi hitam dan putih.
Thanos bukan penjahat yang mudah dibenci karena ia tidak bahagia melakukan apa yang ia
lakukan. Dan di antara keduanya ada pertanyaan yang tidak dijawab oleh film: apakah
tindakan Thanos bisa dibenarkan, dengan cara apa pun, dalam kerangka moral mana pun?
Empat menit itu berakhir. Layar mati. Ito berdiri.
Tiga Pintu Masuk ke Satu Pertanyaan
Handout yang dibagikan malam itu membuka tiga jalan untuk memasuki pertanyaan moral
yang ditinggalkan oleh adegan tersebut.
Yang pertama adalah jalan Kant. Bagi Kant, moralitas bukan soal akibat, bukan soal
perasaan, dan pasti bukan soal apa yang menguntungkan kita. Moralitas adalah soal
kewajiban yang bersumber dari akal budi, yang berlaku tanpa syarat bagi semua orang di
mana pun. Jangan membunuh adalah perintah yang tidak bisa diganggu gugat oleh situasi,
niat baik, atau konsekuensi yang mungkin menyusul. Ini yang Kant sebut imperatif kategoris,
keharusan tanpa syarat. Bagi Kant, kalimat “jangan membunuh, kecuali kamu punya alasan
yang cukup bagus” sudah bukan moral. Itu negosiasi. Thanos, dalam kerangka ini, tidak
memiliki pembelaan.
Jalan kedua adalah jalan kaum utilitarian, Bentham dan Mill. Di sini arahnya berlawanan.
Yang penting bukan niat, bukan kewajiban, melainkan hasil. Berapa banyak yang menderita,
berapa banyak yang terbebas. Thanos bisa berargumen di sini. Tapi Ito menunjukkan
celahnya: ada yang disebut the law of unintended consequences, hukum akibat yang tidak
terantisipasi. Orang yang berniat baik bisa menghasilkan bencana. Dan tidak ada cara untuk
memastikan sebelumnya.
Jalan ketiga adalah jalan Josef Fletcher, teolog Protestan yang namanya tidak sesering Kant
dan Mill disebut di ruang kelas, tapi argumentasinya malam itu terasa paling dekat dengan
cara manusia sesungguhnya menghadapi keputusan moral. Fletcher menolak keduanya:
deontologi terlalu kaku, utilitarian terlalu dingin. Ia menawarkan etika situasi: nilai moral
suatu tindakan hanya bisa dinilai dari dalam situasi yang khas dan tidak bisa disamaratakan.
Satu satunya patokan adalah agape, cinta kasih dalam maknanya yang paling dalam,
ditambah kebijaksanaan dan kepekaan terhadap waktu yang tepat.
Kasus Yesus, kata Ito, adalah yang membuat Fletcher menulis semua ini. Tidak ada imperatif
kategoris yang mewajibkan Yesus disalib. Tidak ada kalkulasi utilitarian yang bisa
membuktikan bahwa penyaliban seorang manusia menguntungkan lebih banyak orang. Yang
ada hanya situasi, pilihan, dan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diberi nama.
Filisida dan Pertanyaan dari Layar Lain
Di sinilah Ronggur masuk, dari balik layar yang berbeda, dengan pertanyaan yang tidak bisa
dielakkan.
Thanos membunuh Gamora. Gamora adalah anak angkatnya. Apa pun yang kita pikirkan
tentang Thanos sebagai penjahat kosmik, dalam momen itu ia adalah seorang ayah yang membunuh anaknya sendiri demi sesuatu yang ia yakini sebagai kebaikan yang lebih besar.
Filisida. Pembunuhan anak oleh orang tua. Apakah ada kerangka moral mana pun yang bisa
menerima ini?
Kant menolak tanpa ampun. Utilitarian bergantung pada siapa yang menghitung dan apa
yang dihitung. Fletcher bertanya balik: apakah yang bergerak di balik pilihan itu adalah cinta
atau sesuatu yang lain yang hanya menyamar sebagai cinta?
Pertanyaan terakhir itulah yang membuat diskusi malam itu tidak selesai pada waktunya,
dan tidak seharusnya selesai. Apakah Thanos mencintai Gamora, ataukah ia mencintai
proyeknya, dan Gamora hanya harga yang harus dibayar? Dan kalau jawabannya yang kedua,
maka apa yang ia lakukan bukan pengorbanan. Itu adalah kalkulasi yang memakai bahasa
pengorbanan supaya terasa lebih bisa diterima.
Ruangan itu tidak sepakat. Dan itu, mungkin, adalah tanda bahwa pertanyaannya benar.
Tujuh Minggu
Forum Teologi Jumatan PAC Menteng akan kembali minggu depan. Dan minggu setelahnya.
Tujuh Jumat dengan tujuh film dan tujuh pertanyaan yang tidak dijanjikan akan selesai di
dalam ruangan.
Ada sesuatu yang menarik dari gagasan bahwa gereja bisa menjadi tempat untuk bertanya
tentang Thanos dengan serius, bahwa kapel bisa menjadi ruang di mana ibu rumah tangga
dan pencari kerja dan lansia delapan puluhan duduk bersama menonton penjahat menangis
lalu mendiskusikan apakah tangisan itu cukup untuk membenarkan apa yang ia lakukan.
Jakarta adalah kota yang sudah terbiasa tidak punya waktu. Jumat malam adalah waktu yang
paling mudah diisi dengan hal hal yang tidak memerlukan banyak usaha. Dua puluh sekian
orang memilih untuk ada di Kapel PGI Cikini dan membiarkan pertanyaan moral
mengganggu tidur mereka malam itu.
Itu bukan angka yang kecil. Itu adalah angka yang tepat untuk sesuatu yang baru dimulai.
About the Author
Irfan
A member of PAC Menteng writing team.