
Ada satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul, baik di kalangan awam maupun kadang di kalangan yang sudah cukup lama bergaul dengan tradisi Anglikan, yaitu anggapan bahwa Anglo-Katolik dan Anglikan adalah dua label yang bisa dipakai bergantian seolah-olah keduanya menunjuk pada satu hal yang persis sama. Atau bahkan banyak yang menganggap bahwa Anglo-Katolik bukan bagian dari Anglikan itu sendiri. Tentu anggapan ini sejatinya adalah keliru. Mengapa demikian? Anglo-Katolik memang pada dasarnya wujud inkarnasi dari tradisi suci Gereja Inggris di dalam rahim Anglikan. Gerakan ini terbentuk dalam upaya untuk menghindari kesewenang-wenangan parlemen dan untuk mengembalikan mother traditon-nya. Namun eksistensi atau sayap Anglo-Katolik tidak lantas sepenuhnya menjadi warna keseluruhan bagi Anglikan, sebab tidak semua orang Anglikan, bahkan tidak semua imam dan uskup Anglikan, mengidentifikasi dirinya sebagai Anglo-Katolik.
Penting bagi kita umat awam untuk dapat menelusuri terlebih dahulu apa itu sebenarnya yang dimaksud dengan Anglikanisme sebagai kerangka besar, sebelum masuk ke bagaimana satu aliran di dalamnya, yaitu Anglo-Katolisisme, lahir lewat sebuah gerakan pembaruan yang dikenal sebagai Oxford Movement.
Anglikanisme sebagai Kerangka Besar
Secara politis, Anglikanisme lahir dari peristiwa Reformasi Inggris pada abad keenam belas, tepatnya sejak masa pemerintahan Henry VIII yang memutuskan hubungan hierarkis dengan Roma melalui Act of Supremacy tahun 1534. (1) Namun perlu digarisbawahi bahwa sejak awal Gereja Inggris tidak pernah berniat menjadi gereja Protestan dalam pengertian Kontinental yang serba baru, dan juga tidak berniat sekadar melanjutkan Katolisisme Roma tanpa koreksi apa pun. Posisi yang diambil justru semacam jalan tengah, atau yang dalam kesarjanaan Anglikan sering kita sebut sebagai via media, sebuah istilah yang belakangan dipopulerkan ulang oleh Jhon Henry Newman meski dengan penekanan berbeda. (2)
Jika kita melihat apa yang dimuat oleh Richard Hooker, lewat karya monumentalnya Of the Laws of Ecclesiastical Polity yang terbit pada akhir abad keenam belas, ia turut meletakkan dasar argumentasi bahwa otoritas gerejawi bertumpu pada tiga pilar sekaligus, yaitu Kitab Suci, tradisi, dan akal budi. (3) Lantas kemudian ketiga pilar inilah yang kemudian dikenal luas sebagai stool tripod Anglikan, meski istilah itu sendiri baru populer belakangan. Demikian pula dalam dokumen-dokumen formatif seperti Thirty-Nine Articles of Religion tahun 1571 dan Book of Common Prayer yang disusun Thomas Cranmer turut menjadi penanda identitas yang mengikat bagi seluruh warga Gereja Inggris, tanpa mensyaratkan penekanan teologis tertentu di luar kerangka umum itu. (4)
Secara historis dan eskatologis, fondasi Anglikan memang dirancang umum dan cukup luas serta tidak terlalu rigid. Hal inilah yang membuat Anglikanisme sejak awal memberi ruang dan menampung keberagaman penekanan teologis di dalam satu atap institusional yang sama. Maka tidak heran jika di dalam tubuh Anglikan sendiri terdapat kelompok yang lebih menonjolkan warisan Reformasi dan menekankan Kitab Suci sebagai otoritas tunggal, yang lazim disebut sebagai kubu Evangelical atau Low Church. Demikian pula kelompok yang lebih menekankan rasionalitas, toleransi, dan keterbukaan terhadap perkembangan pemikiran modern, yang kemudian dikenal sebagai Broad Church. Dan ada kelompok yang menekankan kesinambungan Gereja Inggris dengan katolisitas Gereja purba, lengkap dengan penghormatan tinggi pada sakramen, suksesi apostolik, dan tata liturgi yang kaya, yang disebut sebagai High Church. (5)
Kelahiran Oxford Movement
Jika kita memulai pada sebuah rentang waktu dalam sejarah, titik mula katolisitas ditumbuhkan kembali di dalam tubuh Gereja Inggris adalah melalui Oxford Movement. Atau secara lebih tepatnya terletak pada khotbah John Keble yang berjudul National Apostasy yang ia sampaikan di hadapan para hakim di Gereja St. Mary the Virgin, Oxford, pada 14 Juli 1833. (6) Pada dasarnya khotbah itu merupakan reaksi keras Keble terhadap campur tangan Parlemen Inggris dalam urusan internal Gereja, khususnya rencana penghapusan sejumlah keuskupan di Irlandia tanpa konsultasi memadai dengan otoritas gerejawi. Keble dan rekan-rekannya melihat campur tangan semacam itu telah mempertontonkan bahaya yang besar dimana negara telah memperlakukan Gereja sekadar sebagai instrumen administratif, padahal Gereja memiliki otoritas rohani yang berdiri sendiri, bersumber dari suksesi apostolik yang diwariskan turun-temurun sejak zaman para rasul.

J.H. Newman kemudian merespon khutbah Keble dengan menulis dalam Apologia Pro Vita Sua yang menyatakan bahwa khutbah Keble telah menandai kelahiran gerakan religius yang kemudian dikenal luas sebagai Tractarianism, dinamai demikian karena para penggeraknya rajin menerbitkan pamflet-pamflet pendek berjudul Tracts for the Times. (7) Pamflet-pamflet pendektersebut diterbitkan dalam rentang tahun 1833 sampai 1841, dengan total berjumlah sembilan puluh judul, ditulis oleh sejumlah tokoh dengan Newman sebagai kontributor paling produktif dan paling tajam argumentasinya. (8) Adapun isi tulisan-tulisan itu mengangkat kembali gagasan bahwa Gereja Inggris bukan sekadar produk Reformasi Protestan, melainkan cabang sah dari Gereja Katolik yang satu, kudus, am, dan rasuli, sejajar dengan Gereja Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Pandangan itulah yang belakangan dikenal sebagai teori cabang atau branch theory. (9)
E.B. Pusey, yang mengajar sebagai profesor bahasa Ibrani di Oxford kelak turut menyumbangkan bobot kesarjanaan patristik yang serius pada gerakan ini, sehingga sering pula gerakan tersebut disebut Puseyisme oleh para pengritiknya. (10) Sumbangan Pusey terutama terasa dalam upaya menghidupkan kembali penghayatan sakramental, khususnya soal kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi dan praktik pengakuan dosa pribadi, dua hal yang saat itu dianggap terlalu berbau Roma oleh sebagian besar warga Gereja Inggris yang sudah lama nyaman dengan nuansa Protestan yang lebih longgar dan puritan.

Ketegangan gerakan ini dengan arus utama Gereja Inggris memuncak pada tahun 1841, ketika Newman menerbitkan Tract 90, yang mencoba menafsirkan Thirty-Nine Articles sedemikian rupa sehingga selaras dengan ajaran Konsili Trente. (11) Tafsiran yang dibuat oleh Newman ini memicu kecaman keras dari para uskup dan menandai titik balik yang menyakitkan secara pribadi baginya. Karena bisa mematikan dari mulut para uskup injili tersebut, empat tahun kemudian, pada 1845, Newman akhirnya mengambil keputusan yang menggemparkan banyak kalangan dengan berpindah secara resmi ke Gereja Katolik Roma, sebuah langkah yang kelak diikuti sejumlah tokoh Tractarian lain meski tidak semuanya. (12)

Kepindahan Newman sempat membuat gerakan ini goyah dan dicurigai sebagai jalan diam-diam menuju Roma, namun Keble dan Pusey memilih bertahan di dalam Gereja Inggris dan meneruskan cita-cita Oxford Movement dari dalam, membuktikan bahwa penghayatan Katolik yang mendalam tidak harus berujung pada kepindahan gerejawi dan tunduk pada klaim “olah-olah” yurisdiksi universal atas seluruh gereja oleh Uskup Roma.
Dari Tractarianism Menuju Identitas Anglo-Katolik
Istilah Anglo-Katolik mulai dipakai secara lebih luas untuk merujuk pada warga Gereja Inggris yang mewarisi semangat Tractarian, meski gerakan Oxford sendiri secara formal sudah meredup setelah pertengahan abad kesembilan belas. Generasi berikutnya meneruskan cita-cita itu bukan lagi lewat pamflet teologis semata, melainkan lewat praktik liturgi dan pelayanan sosial, sebuah fase yang lazim disebut Ritualisme atau kadang gerakan Katolik Kedua. Para imam paroki di kawasan miskin perkotaan London mulai memperkenalkan kembali unsur-unsur ibadah yang selama berabad-abad ditinggalkan, seperti penggunaan lilin altar, dupa, jubah liturgi warna-warni sesuai kalender gerejawi, serta penekanan pada pengakuan dosa pribadi dan devosi kepada Sakramen Mahakudus. Praktik ini tentu bukanlah praktik yang mulus dan tanpa perlawanan. Sejumlah imam Ritualis bahkan sempat dipenjarakan berdasarkan Public Worship Regulation Act 1874, undang-undang yang sengaja dibuat Parlemen untuk membendung pengaruh Ritualisme yang dianggap terlalu dekat dengan Roma. (13)
Irisan dan Perbedaan antar Sayap Anglikan
Jelas kelihatan bahwa Anglo-Katolik dan Anglikanisme bukan dua entitas yang setara dan sejajar, melainkan hubungan sebagian dari keseluruhan. Anglo-Katolik berpijak pada struktur gerejawi yang sama dengan seluruh warga Komuni Anglikan lainnya, memakai Book of Common Prayer atau turunan liturginya, tunduk pada otoritas episkopal yang sama, dan mengakui Thirty-Nine Articles sebagai bagian dari warisan formatif, sekalipun cara menafsirkannya kerap berbeda dari kubu Evangelical. Kesamaan struktural inilah yang membuat Anglo-Katolik tidak pernah bisa dilepaskan dari status keanglikanannya, betapapun kuat penekanannya pada unsur Katolik.
Namun, penekanan teologis dan liturgis Anglo-Katolik, terutama soal sakramen sebagai jalur utama anugerah, penghormatan pada Bunda Maria dan para kudus, praktik pengakuan dosa pribadi, serta keyakinan kuat pada suksesi apostolik sebagai jaminan keabsahan tahbisan, tidak dimiliki secara merata oleh seluruh warga Anglikan. Banyak warga Gereja Anglikan, khususnya dari kubu Evangelical, justru menekankan otoritas Kitab Suci satu-satunya, memandang sakramen sebagai tanda dan bukan sarana anugerah dalam pengertian yang sama, serta merasa tidak nyaman dengan istilah Katolik disematkan pada identitas mereka meski secara teologis dan historis istilah itu sebenarnya sah dipakai dalam pengertian universal, bukan dalam pengertian afiliasi ke Roma.
Oleh karena itu seruan atau kalimat Anglo-Katolik sudah pasti Anglikan sementara semua Anglikan belum tentu Anglo-Katolik bukan sekadar olah kata semata, melainkan rangkuman padat dari sejarah panjang yang melibatkan pergulatan teologis serius di Universitas Oxford, keberanian tokoh seperti Keble yang berkhotbah lantang di tengah tekanan politik, kedalaman kesarjanaan Pusey yang menghidupkan kembali penghayatan patristik, serta drama personal Newman yang berujung pada perpindahan menuju Roma tanpa harus meruntuhkan gerakan yang sudah dimulainya.
Anglo-Katolisisme adalah salah satu warna di antara mozaik penekanan teologis yang hidup berdampingan di dalam Komuni Anglikan, bersama Evangelicalism dan Broad Church, dan justru keberagaman itulah yang sejak awal menjadi ciri khas eklesiologi Anglikan, sebuah gereja yang lebih suka merangkul ketegangan produktif ketimbang memaksakan keseragaman doktrinal yang kaku. Memahami perbedaan sekaligus keterkaitan antara keduanya bukan semata-mata cuma latihan akademis, melainkan pintu masuk untuk mengapresiasi kekayaan dan kompleksitas tradisi Anglikan secara lebih utuh dan lebih jujur.
- G. R. Elton, Reform and Reformation: England, 1509-1558 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1977), hlm. 195-201, membahas latar politik dan legislatif Act of Supremacy sebagai titik pisah yurisdiksi Gereja Inggris dari Roma.[↩]
- John Henry Newman menguraikan gagasan via media dalam Lectures on the Prophetical Office of the Church (1837), yang kemudian ia bahas ulang secara kritis dalam Apologia Pro Vita Sua (1864).[↩]
- Richard Hooker, Of the Laws of Ecclesiastical Polity, Buku I-V (London, 1594-1597); lihat edisi modern W. Speed Hill (ed.), The Folger Library Edition of the Works of Richard Hooker (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1977-1993).[↩]
- Bandingkan teks resmi The Thirty-Nine Articles of Religion (1571) dan The Book of Common Prayer (1549, revisi 1552 dan 1662), keduanya menjadi standar liturgis dan doktrinal formatif Gereja Inggris.[↩]
- Peter B. Nockles, The Oxford Movement in Context: Anglican High Churchmanship, 1760-1857 (Cambridge: Cambridge University Press, 1994), hlm. 25-63, menelusuri akar High Churchmanship jauh sebelum Oxford Movement muncul.[↩]
- John Keble, National Apostasy: A Sermon Preached in St Mary’s, Oxford, before Her Majesty’s Judges of Assize (Oxford, 1833).[↩]
- John Henry Newman, Apologia Pro Vita Sua (London: Longman, Green, Longman, Roberts, and Green, 1864), bab 1, tempat Newman menyebut khotbah Keble sebagai awal mula gerakan religius yang ia ikuti.[↩]
- Tracts for the Times, By Members of the University of Oxford, 6 jilid (London: Rivington, 1833-1841); lihat pula Owen Chadwick, The Mind of the Oxford Movement (London: A. & C. Black, 1960).[↩]
- Gagasan branch theory dirumuskan Newman dalam Lectures on the Prophetical Office of the Church (1837); untuk analisis kritisnya lihat Peter Nockles, The Oxford Movement in Context, hlm. 148-181.[↩]
- Lihat H. P. Liddon, Life of Edward Bouverie Pusey, 4 jilid (London: Longmans, Green, 1893-1897), yang menjadi biografi standar Pusey dan kontribusinya pada kesarjanaan patristik Tractarian.[↩]
- John Henry Newman, Tract 90: Remarks on Certain Passages in the Thirty-Nine Articles (Oxford, 1841).[↩]
- Untuk kronologi dan konteks kepindahan Newman, lihat Owen Chadwick, The Victorian Church, Bagian I (London: A. & C. Black, 1966), hlm. 202-226.[↩]
- James Bentley, Ritualism and Politics in Victorian Britain: The Attempt to Legislate for Belief (Oxford: Clarendon Press, 1978), membahas Public Worship Regulation Act 1874 dan dampaknya pada para imam Ritualis.[↩]
About the Author
Macarius
A member of the Grace Community Church pastoral and writing team.
← Previous Post
Thanos di Kapel PGI
Next Post →
What it Takes to be an Anglican - Sebuah Tinjauan Kritis dari Perspektif Anglo-Katolik
Leave a Reply