Providence Anglican Menteng
Anglicanism

What it Takes to be an Anglican – Sebuah Tinjauan Kritis dari Perspektif Anglo-Katolik

July 16, 2026 · By Macarius · 13 min read
Home / Blog / What it Takes to be an Anglican – Sebuah Tinjauan Kritis dari Perspektif Anglo-Katolik

Baru baru ini saya menggumuli serta merenungkan berbagai label dalam Anglikanisme serta kaitannya dengan bagaimana dengan diri saya yang lebih ajeg dalam menyatakan sebagai seorang Anglokatolik. Artikel ini saya tulis sebagai lanjutan dari catatan yang agak kaku sebelumnya yaitu “Anglokatolik sudah pasti anglikan dan tidak semua Anglikan itu Anglo Katolik”

Sebagai warga Anglikan provinsi Asia Tenggara, saya melihat secara jujur bahwa Gereja Anglikan global hari ini tengah mengalami apa yang saya sebut sebagai pergeseran tektonik. Kebangkitan gerakan seperti Global South dan dominasi faksi Evangelical (Injili) serta Karismatik di berbagai belahan dunia (termasuk Asia dan Afrika) seringkali dirayakan sebagai keberhasilan pertumbuhan kuantitatif. Data demografis memang menunjukkan bahwa mayoritas umat Anglikan di dunia kini berada di provinsi-provinsi Global-South dan sebagian besar dari mereka diwarnai kuat oleh nada teologis Injili-konservatif dan spiritualitas Karismatik. (1)

Sebagai satu perenungan dan tulisan lanjutan saya sebelumnya, artikel ini disusun dari perspektif saya sebagai orang yang mengidentifikasikan diri sebagai Anglo-katolik. Sebuah aliran atau faksi Anglikan yang menekankan kesinambungan katolik, sacramental, dan liturgis Gereja purba yang tak terbagi. Dalam artikel ini tidak ada tendensi untuk menolak keabsahan pengalaman Injili maupun Karismatik sebagai bagian sah dari kekayaan Anglikan, melainkan untuk menggugat kecenderungan salah satunya menjadi satu-satunya wajah yang sah, sehingga meniadakan yang lain.

Apakah Anglikan Anak kandung Reformasi Benua Eropa?

Ada sebuah amnesia sejarah yang menggelayuti paroki-paroki Anglikan modern yang hari ini sangat condong pada teologi Injili. Bahkan mereka yang kerap menggunakan Marthin Luther dan menyanjung John Calvin atau Huldrrych Zwingli merasa seolah-olah Anglikan adalah perpanjangan tangah dari gerakan mereka. Sebagai awam saya mencoba untuk memastikan bahwa ini adalah keliru dan seyogianya Anglikan tidak berada disana.

Kilas balik, ketika Thomas Cranmer merancang Reformasi Inggris di abad ke-16, kita dapat melihat bahwa tujuannya bukanlah untuk mendirikan gereja baru dengan teologi impor dari Jerman ataupun Swiss, melainkan melakukan restorasi terhadap Gereja Purba di Inggris (Ecclesia Anglicana) (2) Pengaruh Katolik melalui struktur episcopal, liturgi sakramental, jubah tata ibadah hingga penghormatan pada Tradisi Patristik merupakan mother tradition (tradisi induk) dari Anglikan itu sendiri. (3) Demikian juga dalam karya agung dari Cranmer seperti Book of Common Prayer (1549), bukanlah lompatan menuju teologi kontinental, melainkan penerjemahan dan penataan ulang liturgi Sarum kuno ke dalam bahasa inggris yang dapat dipahami umat awam. (4)

Jika kita menengok pada para teolog Anglikan kalsik (Anglican Divines) seperti Richard Hooker, mereka justru membangun teologi Anglikan sebagai kritik sekaligus alternatif terhadap radikalitas para reformator Eropa Barat. Dalam magnum opus-nya, Of the Laws of Ecclesiatical Polity, Hooker justru meletakkan dasar bagi apa yang kemudian dikenal sebagai prinsip Via media diantaranya Kitab Suci, Tradisi, dan Akal Budi (reason) berjalan bersama, bukan Kitab Suci sendiri dan satu-satunya yangmenafikan segala warisan gereja. (5) Pertanyaan bagi kita hari ini adalah, mengapa kita sangat menyanjungi teologi Reformed yang bukan lahir dari pergulatan intelektual (reason) dan rahim Anglikan itu sendiri?

Lupakah kita bahwa pada saat kaum Calvinis dan Puritan menghancurkan segala hal yang tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab (termasuk kaca patri, gambar, dan salib corpus) Anglikan justru mempertahankan tradisi kuno ini yang berguna dalam menunjang Iman dan ketertiban ibadah, selama tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Prinsip ini secara eksplisit tertuang dalam Tiga Puluh Sembilan Pasal (1571), yang menegaskan bahwa kecukupan kitab Suci bagi keselamatan namun sekaligus mengakui wewenang Gereja menahbiskan ritus dan upacara. (6)

Melawan teologi Sakramen yang Kering

Anglikan sudah dapat dipastikan telah menolak Memorialisme Zwingli, yang mengganggap komuni hanya symbol pengingat belaka, dan juga menolak Konsubstansiasi Luhter. Pasal XXVIII menegaskan pada kita bahwa penolakan terhadap transubstansiasi fisik ala Roma, tetapi tidak pernah mereduksi Ekaristi menjadi sekedar ajang peringatan kosong. (7) Dalam hal ini Anglikan klasik oleh bapak-bapak Anglican Divines secara konsisten memegang doktrin kehadiran nyata yang bersifat spiritual (kadang kita sebut sebagai Real presence atau Virtualism), yang berakar pada pembacaan Bapa Gereja Purba, bukan sekedar rumusan skolastik Roma maupun Reduksionisme Jenewa.

Sudah dapat dipastikan bahwa Cranmer memanglah tengah membersihkan penyelewengan “Roma” pada zamannya seperti doktrin transubstansiasi fisik, komuni satu rupa, kurban misa yang berulang, hingga supermasi kepausan. Namun, Cranmer tidak satupun ditemukan padanya sebuah niatan untuk membuang bayi bersama air mandinya. Cranmer justru berdiri untuk mempertahankan wajah Katolik yang rasuli dan membalutnya dengan prinsip-prinsip biblikal yang sehat.

Hantu Bloody Mary dan Sentimen Anti Roma

Barangkali jika kita hendak memahami mengapa sayap Injili modern begitu agresif dalam menolak identitas katolik mereka sendiri, kita harus membedah luka sejarah gereja ini. Kembali pada sejarahnya, di dalam DNA teologis Anglikan terdapat trauma kolektif yang sangat mendalam akibat pemerintahan Ratu Mary I (yang dijuluki Bloody Mary) pada tahun 1553-1558.

Pada masanya, Mary bertekad mengembalikan inggris ke bawah kekuasaan kepausan Rma dengan cara kekerasan. Ia membatalkan seluruh Reformasi Cranmer, melarang penggunaan Book of Common Prayer, dan mengeksekusi sedikitnya 284 hingga 300 orang Protestan dan reformator Anglikan di tiang pancang sepanjang tahun 1555 hingga 1558. Diantara para korban berdarah itu adalah 56 perempuan, dengan puluhan lainnya meninggal di penjara.Pada masanya, Mary bertekad mengembalikan inggris ke bawah kekuasaan kepausan Rma dengan cara kekerasan. Ia membatalkan seluruh Reformasi Cranmer, melarang penggunaan Book of Common Prayer, dan mengeksekusi sedikitnya 284 hingga 300 orang Protestan dan reformator Anglikan di tiang pancang sepanjang tahun 1555 hingga 1558. Diantara para korban berdarah itu adalah 56 perempuan, dengan puluhan lainnya meninggal di penjara. (8) Di antara para martir itu adalah Thomas Cranmer sendiri, yang dibakar di Oxford pada 21 Maret 1556 setelah sempat menandatangani recantation atau surat penarikan iman lalu kemudian secara terbuka mencabut kembali surat tersebut sebelum kematiannya. (9) John Foxe dalam Acts and Monuments kemudian menghimpun catatan kontemporer tentang penganiayaan ini dan kini dikenal sebagai Book of Martyrs (10)

Peristiwa berdarah ini barangkali atau hamper dipastikan pasti, secara psikologis dan teologis telah menanamkan trauma dan ketakunan yang akut di benak orang Inggris, bahwa segala hal yang berbau Roma Katolik seolah menjadi sinonim dari penindasan, korupsi dan maut. Maka, secara hemat dapat saya katakan bahwa trauma berdarah Mary I inilah yang kemudian hari melahirkan bias prasangka yang besar di dalam tubuh Anglikan sendiri. Tampak nyata dan jelas ketika gerakan Oxford (kebangkitan a.k.a. inkarnasi Anglo-catholic) pada 1833 yang ditandai dengan khotbah John Keble, sempat mengalami berbagai persekusi dan pemenjaraan terhadap para imam Anglokatolik atau kaum Tractarian. Para Tractarian ini yang di dalamnya termasuk John Henry Newman dengan Tract 90 karyanya langsung dicurigai secara politis oleh faksi Injili/Puritan. (11)

Kecurigaan yang berlebihan terhadap para tokoh Gerakan Oxford ini akhirnya melahirkan Public Worship Regulation Act 1874 yang disahkan oleh Parlemen Inggris untuk membendung praktik ritualis Anglokatolik. Di bawah undang-undang tersebut, sedikitnya lima imam seperti Arthur Tooth, T. Pelham Dale, Richard Enraght, Sidney Faithorn green dan James Bell Cox dipenjarakan antara tahun 1877 dan 1882, semata-mata karena menolak menghentikan penggunaan dupa, lilin altar dan jubah liturgis dalam ibadah mereka. (12) Para imam Anglokatolik ini lantas dituduh sebagai “antek-antek kepausan” (papists) dan dituding melakukan konspirasi rahasia untuk menyerahkan kembali gereja Inggris ke dalam praktik koruptif Romawi.

Ironisnya, ketakutan historis yang telah berusia ratusan tahun ini masih dipelihara oleh faksi Injili radikal modern hari ini. Tidak jarang trauma masa lalu ini mereka gunakan sebagai senjata sosiologis untuk menjustifikasi pembuangan warisan liturgis, seolah-olah menggunakan jubah liturgis yang indah atau meletakkan lilin di altar adalah Langkah awal untuk menuju “penindasan Roma” atau tudingan that’s too catholic seakan-akan Anglikan tidak pernah lahir dari rahim gereja yang Katolik dan Apostolik.

Batas yang Semakin Buram

Jika kita melihat, bahwa sayap Evangelical Karismatik bertindak secara puritan di dalam tubuh Anglikan dengan memanfaatkan trauma masa lalu, dapat dipastikan sebenarnya hal ini saya menyebut sebagai praktik “amputasi identitas” gejala ini terlihat jelas ketika sebuah paroki (1) menolak symbol-simbol lituris yang membangun iman (jubah, warna liturgi, tanda salib, hingga corpus ikon) hanya karena takut dianggap “terlalu katolik”. Kemudian (2) mengabaikan atau membuang penekanan katekistik dalam Book of Common Prayer (BCP) dan menggantinya dengan teks liturgi sendiri yang lebih cair dan tidak terikat tradisi. (3) menggeser pusat ibadah dari Sakramen Ekaristi menjadi sekadar panggung konser puji-pujian (gaya Karismatik) atau mimbar khutbah tekstuak murni (gaya injili). (4) meniadakan penghormatan pada Kalender Liturgi dan siklus tahun gerejawi demi mengikuti kalender “tema khotbah seri” ala gereja mega-bintang. (5) Menolak atau pengabaian terhadap kalimat “persekutuan para kudus” (the communion of saints). Ini salah satu indikasi paling nyata dari infiltrasi teologi Puritan dan denominasi independen modern yang alergi terhadap segala bentuk dimensi mistis-komunal Gereja yang melintasi zaman.

Jika memang demikianlah perkembangan gereja Anglikan hari ini, muncul pertanyaan retoris yang coba saya renungkan bagi saya pribadi. “Lantas, apa bedanya Anglikan dengan Gereja Reformed yang sangat Injili, atau dengan gereja-gereja mega Karismatik hari ini?

Barangkali, tanpa kekhasannya yang dalam, Anglikan hari ini akan terjebak menjadi komoditas tiruan dari praktik moderenitas yang kering akan spiritual dan dangkal dalam hal menalar praktik iman. Menjadi aneh dan ironis ketika sebuah gereja mengklaim diri Anglikan, namun di dalamnya bahasa teologi Calvinis murni yang diperdengarkan serta bernyanyi dengan atmosfer Pentakosta kontemporer, sementara kekayaan warisan liturginya mati suri.

Ketegangan-ketegangan ini tentu bukanlah sekedar wacana abstrak yang kita saksikan hari ini. Kilas balik pada Juni 2008, sekelompok besar uskup dan pemimpin awam dari provinsi-provinsi Global South berkumpul dalam Global Anglican Future Conference (GAFCON) pertama di Yerusalem. Dalam konferensi itu menghasilkan Jerusalem Declaration sebagai respons terhadap krisis tahbisan uskup di Amerika Utara, namun dalam perjalanannya turut mengonsolidasikan corak teologi yang sangat condong Injili-konservatif sebagai penanda “ortodoksi Anglikan global” (13)

Persoalannya bukan pada substansi moral yang diperjuangkan GAFCON, yang sering kali memang selaras dengan ajaran historis gereja. Persoalan yang sesungguhnya adalah terletak pada kecenderungan sebagian pendukungnya untuk mereduksi seluruh warisan sakramental dan liturgis Anglikan yang menjadi sekadar aksesori historis yang boleh dilepas demi efektivitas misi. Ketika identitas eklesiologis direduksi menjadi soal moral dan biblisisme semata, maka dapat dipastikan Anglikan kehilangan salah satu sumbangan khasnya bagi kekristenan global, yaitu kemampuannya menjadi jembatan (via media) antara tradisi Katolik dan warisan reformasi Inggris.

What it Takes to be an Anglican?

Anglikan sejati seyogianya tidak sekadar didefinisikan oleh selera teologis pribadi Imamnya atau tren mega-bintang di luar. Secara hukum eklesiologi, ke-Anglikan-an sebuah paroki diuji melalui empat pilar Chicago-Lambeth Quadrilateral, drilateral, yang mula-mula telah disahkan oleh House of bishop gereja Episkopal di Chicaho pada 1886, lalu diadopsi dengan sejumlah modifikasi sebagai Resolusi 11 Konferensi Lambeth 1888. (14) Adapun empat pilar tersebut dalah sebagai berikut.

  1. Kitab Suci. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebagai memuat segala hal yang perlu untuk keselamatan, dan sebagai aturan serta standar iman yang tertinggi.
  2. Pengakuan Iman Kuno. Pengakuan Iman Rasuli sebagai simbol baptisan, dan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel sebagai pernyataan iman Kristen yang cukup.
  3. Dua Sakramen Utama. Baptisan dan Perjamuan Tuhan (Ekaristi), yang ditahbiskan Kristus sendiri, dilayani dengan penggunaan kata-kata Institusi dan unsur-unsur yang Ia tetapkan tanpa dikurangi.
  4. Episkopat Historis. Sistem kepemimpinan Uskup dalam garis suksesi apostolik, yang diadaptasi secara lokal sesuai kebutuhan bangsa dan umat, namun tetap dipertahankan sebagai keystone kesatuan pemerintahan gerejawi.

Empat pilar ini penting justru karena ia tidak menyebutkan afiliasi teologis tertentu. Bukan Calvinisme, bukan pula Karismatikisme sebagai syarat ke-Anglikan-an. Namun tidak boleh juga dibaca minimalis, seolah-olah selama empat unsur formal ini ada di atas kertas, isi dan jiwa liturgi boleh diganti seenaknya (sepenuhnya ataupun sebagian).

Lebih dari itu, Anglikan ia dapat disebut sebagai Anglikan adalah karena disatukan dengan prinsip Lex Orandi, Lex Credendi yang artinya bagaimana kita berdoa, begitulah kita percaya. Prinsip ini, yang jejaknya dapat ditelusuri hingga rumusan Prosper dari Aquitania pada abad ke-5 yang kelak mejadi sumbu sentral eklesiologi Anglikan. (15) Komunitas ini dibentuk oleh doa bersama yang teratur melalui tradisi liturgi, alih-alih hanya oleh subjektivitas pengkhotbah. Maka dari itu, yang hendak diutarakan dalam poin ini, jikalaupun sistem episkopal dipertahankan hanya agar ada seorang pria berpakaian jubah yang disebut “Uskup”, namun tata ibadah dan doktrin di dalamnya telah berubah menjadi gereja independent-pentakosta, maka organisasi ini sedang menipu dirinya sendiri.

Kesimpulan

Dalam pandangan ini atau mungki lebih terdengar sebagai kritik, sama sekali tidak dalam rangka menginginkan permusuhan melainkan sebuah alaram atau poin of view lain dalam hidup sebagai saudara seiman dalam tubuh Kristus. Lebih-lebih hanya ingin kembali menegaskan dalam upaya untuk menyelamatkan Gereja Tuhan dari kepunahannya akan identitas imannya.

Oleh karena itu sebagai penegasan terakhir, saya rasa perlu untuk di digarisbawahi, bilamana Anglikan memang sejatinya ditakdirkan untuk berdiri sebagai via media maka ia juga harus sedia memberi diri berdamai dengan berani pada sejarahnya. Menjadi gereja yang Katolik namun tereformasi bukan sekadar slogan retoris, gereja yang injili namun tetap sakramental, sekaligus gereja yang menghargai karya Roh Kudus namun tetap tertib di dalam koridor tradisi dan akal budi. Mengembalikan keseimbangan ini serta menolak penundukan sepihak kepada teologi Calvinis maupun praktik Karismatik ekstrem adalah satu-satunya cara agar Gereja Tuhan tidak kehilangan jiwanya di abad modern ini.

— “Ecclesia semper reformanda, sed secundum Traditionem”

Gereja senantiasa perlu direformasi, namun tetap menurut Tradisi.

  1. Kevin Ward, A History of Global Anglicanism (Cambridge: Cambridge University Press, 2006); dan Philip Jenkins, The Next Christendom: The Coming of Global Christianity, rev. ed. (Oxford: Oxford University Press, 2007), tentang pergeseran demografis mayoritas Anglikan ke Global South yang didominasi arus Injili dan Karismatik.[]
  2. Diarmaid MacCulloch, Thomas Cranmer: A Life (New Haven & London: Yale University Press, 1996), bab 1–2, tentang program restorasi liturgis Cranmer terhadap Ecclesia Anglicana pra-Reformasi, bukan pendirian gereja baru.[]
  3. Paul Avis, The Identity of Anglicanism: Essentials of Anglican Ecclesiology (London: T&T Clark, 2007), khususnya bab tentang kesinambungan historis Church of England dengan Gereja Inggris pra-Reformasi.[]
  4. Brian Cummings (ed.), The Book of Common Prayer: The Texts of 1549, 1559, and 1662 (Oxford: Oxford University Press, 2011); Book of Common Prayer 1549 karya Thomas Cranmer dan revisi-revisinya menjadi jangkar liturgis identitas Anglikan.[]
  5. Richard Hooker, Of the Laws of Ecclesiastical Polity (1594–1662), Buku V, tentang adiaphora (perkara-perkara indiferen) dan keabsahan tradisi selama tidak bertentangan dengan Kitab Suci.[]
  6. Thirty-Nine Articles of Religion (1571), Pasal VI (“Of the Sufficiency of the Holy Scriptures for Salvation”) serta Pasal XX dan XXXIV tentang wewenang Gereja mengatur ritus dan upacara selama tidak bertentangan dengan Firman Allah yang tertulis.[]
  7. Thirty-Nine Articles of Religion, Pasal XXVIII (“Of the Lord’s Supper”), menolak transubstansiasi; lih. juga E. J. Bicknell, A Theological Introduction to the Thirty-Nine Articles, rev. ed. (London: Longmans, Green & Co., 1955), hlm. 388–408, tentang posisi Anglikan di antara Zwinglianisme dan Lutheranisme.[]
  8. Eamon Duffy, Fires of Faith: Catholic England under Mary Tudor (New Haven & London: Yale University Press, 2009); perkiraan modern menyebut sedikitnya 284–300 orang dibakar hidup-hidup pada 1555–1558, termasuk 56 perempuan, dengan puluhan lain meninggal di penjara.[]
  9. Thomas Cranmer dieksekusi dengan dibakar di Oxford pada 21 Maret 1556, setelah sempat menandatangani beberapa surat pengakuan penarikan (recantation) yang kemudian ia cabut kembali di depan umum sesaat sebelum kematiannya. Lih. MacCulloch, Thomas Cranmer: A Life, bab 20.[]
  10. John Foxe, Acts and Monuments (edisi pertama 1563), dikenal luas sebagai “Foxe’s Book of Martyrs”, sumber primer (meski bersifat polemis-Protestan) bagi historiografi penganiayaan era Maria I.[]
  11. Peter B. Nockles, The Oxford Movement in Context: Anglican High Churchmanship, 1760–1857 (Cambridge: Cambridge University Press, 1994); Tracts for the Times diterbitkan 1833–1841, dengan Tract 90 karya John Henry Newman (1841) sebagai tulisan terakhir yang memicu kontroversi hebat karena menafsirkan Tiga Puluh Sembilan Pasal secara Katolik.[]
  12. James Bentley, Ritualism and Politics in Victorian Britain: The Attempt to Legislate for Belief (Oxford: Oxford University Press, 1978); di bawah Public Worship Regulation Act 1874, sedikitnya lima imam Anglo-Katolik (Tooth, Dale, Enraght, Green, dan Cox) dipenjarakan pada 1877–1882 karena menolak menghentikan praktik ritualis seperti penggunaan dupa, lilin altar, dan jubah liturgis.[]
  13. The Jerusalem Declaration, dihasilkan oleh Global Anglican Future Conference (GAFCON) I, Yerusalem, Juni 2008; dokumen ini menjadi penanda konsolidasi teologis sayap Injili-konservatif Global South di dalam Komuni Anglikan pasca-krisis tahbisan uskup non-selibat aktif secara homoseksual di Amerika Utara.[]
  14. Chicago-Lambeth Quadrilateral: disahkan mula-mula oleh House of Bishops, Sidang Umum Gereja Episkopal di Chicago, 1886, kemudian diadopsi dengan modifikasi sebagai Resolusi 11 Konferensi Lambeth 1888. Teks resmi tersedia melalui Anglican Communion Office, anglicancommunion.org.[]
  15. Prinsip lex orandi, lex credendi ditelusuri pada rumusan Prosper dari Aquitania (abad ke-5); dalam eklesiologi Anglikan modern lih. Paul Avis, Anglicanism and the Christian Church: Theological Resources in Historical Perspective, rev. ed. (Edinburgh: T&T Clark, 2002).[]

About the Author

Macarius

A member of the Grace Community Church pastoral and writing team.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

New to Providence Anglican Menteng?

We welcomes all who seek a deeper encounter with God through prayer, sacrament, and Christian fellowship, and who desire to grow in faith while serving the wider community.

Plan Your Visit