Makna kemerdekaan terletak pada pengalaman nyata warga, bukan pada status politik atau ritus tahunan yang berulang setiap tahun. Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, makna itu tampak paling jelas dalam perjumpaan warga dengan hukum, ekonomi, pembangunan, dan negara dalam kehidupan sehari-hari mereka. Menguatnya identitas lokal di Papua, Aceh, dan Kalimantan menunjukkan bahwa keutuhan wilayah harus disertai rasa memiliki yang adil, bukan sekadar penegakan administratif.
Nasionalisme yang sehat karena itu menolak kepatuhan tanpa syarat dan menempatkan republik sebagai milik bersama, bukan milik penguasa atau golongan tertentu. Dalam tradisi Anglo Katolik, martabat manusia menjadi ukuran kemerdekaan, sebab Allah sendiri telah memasuki sejarah manusia melalui Inkarnasi. Negara, hukum, pembangunan, dan kekuasaan karena itu perlu terus-menerus ditanya apakah semuanya membuat manusia semakin merdeka sekaligus semakin manusiawi.
About the Author
Admin
A member of the Grace Community Church pastoral and writing team.